Menggugat Keadilan Backlink Berkualitas

Backlink berkualitas menaikkan ranking blog? Sebelum kalian baca artikel ini, perlu saya tekankan lebih dulu agar tidak terjadi salah paham. Tulisan ini hanya pendapat pribadi dari Om Toni blogger pemula yang tingkat ilmu perbloggerannya masih dangkal. Jadi tak perlu diperdebatkan karena berdebat dengan orang kurang pengetahuan itu sama saja dengan ngajak berantem anak kecil. Menang tak membanggakan, kalah bikin malu setengah mati. Sepakat?


Uneg-uneg ini terkait “isu” pengaruh kualitas backlink pada serp blog. Jangan tanya apa itu backlink? Apa itu serp post? ciri-ciri serta cara mencari “bekingan kuat” itu bagaimana? Maaf, saya tak akan menjelaskannya. Selain karena sudah banyak yang mengulas, saya sendiri tak begitu paham soal itu. Bwaha ha....

Serius. Ada dua point yang menurut saya berpotensi tidak adil terkait masalah backlink dan perlu digugat. (kayak pengadilan aja)

#1. Link kita di blog orang lain

Banyak pakar SEO berpendapat bahwa backlink yang berkualitas akan meningkatkan serp sebuah blog sehingga bisa nongkrong di halaman pertama pencarian google.

Mungkin ini benar. Penjelasannya juga masuk akal. Kita ibaratkan saja blog itu cewek. Makin cakep cewek tersebut tentu makin banyak yang membicarakan. Dan google sebagai mak comblang, wajar kalau merekomendasikannya di urutan pertama jika ada yang bertanya: “mbah, cewek paling keren di daerah sini itu siapa ya?” Apalagi jika yang ngomong itu pakar kecantikan (blog ber-DA dan PA tinggi serta dianggap berkualitas oleh google) yang paham betul kriteria wanita kece itu seperti apa.

Masalahnya, yang terjadi kemudian adalah banyak cewek –selanjutnya kita sebut blogger saja ya biar topiknya tak melenceng jauh- yang sibuk mencari cara supaya mendapat backlink dari blog kelas atas ketimbang membenahi blognya dengan konten berkualitas. Bahkan ada yang rela merogoh kocek mahal untuk mendapat backlink.

Saya pikir masalah ini sangat serius. Jika mindset backlink sudah tertanam di otak para blogger, efek negatifnya bisa menurunkan minat orang belajar ngeblog secara benar. Mereka lebih suka mempelajari teknik copas tingkat tinggi daripada nulis karya berdasar hasil pemikiran sendiri. Toh dengan “trik silent copas”, artikel hasil nyontek tak akan terdeteksi sebagai double content oleh mesin pencari. Yang penting “beking”nya kuat pasti disayang simbah.

Coba kalau google menghapus kekuatan backlink sebagai salah satu faktor pertimbangan untuk menentukan peringkat serp blog. Tentu para pemilik blog lebih konsentrasi membuat konten bagus dan tak usah pusing mikirin backlink. Toh yang model beginian akhirnya justru jadi ajang jual beli backlink bagi jasa SEO.

Setuju nggak mbah?

#2. Link orang lain di dalam blog kita

Ahli SEO juga mengatakan bahwa menempatkan link dofollow dari blog yang tidak berkualitas dalam postingan akan berpengaruh buruk pada blog kita. Begitu juga sebaliknya, mencantumkan link website berkualitas dalam artikel akan meningkatkan serp.

Entahlah, google sendiri mengatur hal ini atau cuma berdasar asumsi sebagian blogger saja. Kalau memang benar, maka akan berpotensi blog besar makin besar dan blog pemula tak ada harapan untuk naik kelas. Persis kayak lagunya bang haji: Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Alangkah tidak adilnya.

Kok bisa begitu Om?

Bayangkan jika kamu adalah blogger pemula yang blognya baru seumur jagung. Semalaman kamu capek menulis artikel sebagus dan semenarik mungkin. Kemudian ada blog yang mengutip sebagian atau keseluruhan tulisan kalian tanpa mencantumkan alamat URL sumber aslinya karena takut berpengaruh buruk pada blog mereka. Lebih parah lagi jika hasil tulisanmu ternyata di linkkan ke blog lain yang dianggap berkualitas supaya blog mereka serpnya bagus. Bijimana perasanmu?

Jika begitu caranya kapan blog kita akan bisa sejajar dengan web lama yang dianggap berkualitas itu? Percuma saja bikin artikel orisinil, unik dan berkelas kalau tak akan ada yang baca karena tak muncul di halaman pertama search google gara-gara blogger senior ogah memberikan backlink.

Kesimpulan:

Jangan dianggap serius postingan ngaco ini. Anggap saja coretan tak penting dari blogger frustasi yang menganggap ketidakmampuannya sebagai sebuah ketidakadilan. Padahal dalam dunia blogging maupun kehidupan nyata, keadilan itu relatif. Pihak yang diuntungkan akan bilang itu sudah adil. Sebaliknya, yang merasa dirugikan akan berkoar: “Ini sungguh terlaluuuuu!!”

Bagi keponakan sesama blogger amatir, tak usah risau. Backlink hanya satu dari ratusan kriteria bagi search engine untuk menilai blog itu pantas direkomendasikan pada pencari info di internet atau tidak. Teruslah menulis postingan orisinil yang bermanfaat bagi banyak orang. Bagaimanapun, cepat atau lambat pembaca juga yang menentukan mana blog bagus yang layak dibaca dan mana yang pantas tercampak dalam recycle bin. Seperti artikel ini misalnya, kalianlah yang menentukan berapa tingkat kengawurannya hahaha...

Catatan: Artikel ini sengaja tidak saya optimasi dengan cara mencari backlink. Tapi kalau dianggap bagus dan mau mencantumkan urlnya sih tak nolak :D. Saya ingin membuktikan bahwa orisinalitas dan keunikan konten adalah kunci utama memenangkan serp. Istilah gaulnya content is king.

Jika kalian membaca postingan ini dari page one google, maka teori backlink berkualitas berpengaruh besar terhadap serp itu tak sepenuhnya benar. Dan saya akan mencabut gugatan ini serta berjanji tak akan menggugat lagi. Jika tidak... ya sudahlah. Dunia memang tak pernah adil. Setuju?

Click to comment