Berapa Jatah Uang Belanja Istri yang Ideal?

nafkah suami kepada istri
Berapa nominal uang jatah belanja buat istri yang ideal? 2 juta, 3 juta, 5 juta, 10 juta? Wah, agak susah juga menjawabnya. Sebab sampai saat ini belum ada undang-undang yang mengatur berapa batas minimal jatah belanja bulanan atau uang nafkah yang wajib diberikan suami pada istrinya. Mungkin bapak ibu bisa mengusulkannya pada anggota DPR atau presiden supaya dibuat UU / Kepres belanja istri 😊

Masalah nafkah dan uang belanja yang notabene masuk dalam ranah ekonomi ini masih menjadi faktor penyebab perceraian tertinggi di Indonesia. Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Apakah pihak si lelaki yang malas cari duit? Atau pihak wanita yang terlalu menuntut dan kurang nrimo? Apapun itu, suamilah yang bersalah, karena wanita selalu benar

Serius! Kita realistis ajalah. Memang uang bukan segalanya. Tapi beli beras, bayar rekening listrik, biaya sekolah anak dan segala kebutuhan rumah tangga itu butuh uang. Dan untuk mencukupi semua kebutuhan itu menjadi kewajiban serta tanggung jawab seorang suami. Sepakat?

Oke, kita akan coba cari solusi bersama untuk merumuskan jumlah uang belanja istri dan nominal nafkah bagi istri yang ideal itu berapa. Tapi sebelum itu, perlu dipahami. Menurut beberapa ahli, ada perbedaan antara uang belanja dengan uang nafkah 👪

Uang jatah belanja adalah duit yang diberikan pada istri untuk kebutuhan sehari hari. Seperti buat makan, bayar listrk, sangu anak sekolah, uang buat buwuh serta kebutuhan yang diperuntukkan buat seluruh keluarga tiap harinya

Sedang nafkah istri adalah uang yang diberikan suami untuk keperluan pribadi si istri. Dan uang tersebut bebas dipakai istri buat apa saja. Contohnya: buat ke salon, shopping beli perhiasan, beli hape selfie dll. Pokoknya suka-suka dialah. Yang penting tidak dipakai buat hal yang aneh aneh aja

Silahkan tepuk tangan, bu hehehe... Tapi tunggu dulu. Sekali lagi belum ada undang-undang yang mengatur soal ini. Dalam UU Perkawinan hanya menyebut suami berkewajiban memberi nafkah lahir batin pada istri. Tidak ada rincian secara detail. Lagian gak baik terlalu perhitungan sampai njelimet gitu sama pasangan sendiri

Kembali ke topik. Berapa jumlah jatah belanja perbulan buat istri yang layak? Jawabannya tergantung pada masing-masing pasangan. Karena  kemampuan dan kebutuhan tiap keluarga itu berbeda. Keluarga muda yang belum punya momongan tentu beban pengeluarannya tidak sama dengan pasangan yang memiliki 3 orang anak. Keluarga yang tinggal di kota besar tentu tingkat kebutuhan hidupnya lebih tinggi dibanding mereka yang berdomisili di desa

Tapi hal paling penting adalah berapa pengasilan si suami. Kalau dia mempunyai gaji atau penghasilan tetap tiap bulannya sih enak mengalokasikan anggaran buat jatah belanja berapa, buat jatah nafkah berapa, buat jatah biaya kenakalan suami berapa... ups, a maaf ya bu. Yang terakhir tadi becanda saja kok. Maksudnya uang penunggu dompet suami berapa. Tak mungkinlah lelaki kerja di luar gak bawa duit sama sekali. Kalau ban bocor, bensin habis, kehausan, kelaparan, ingin nraktir teman ngopi bagaimana? 
Rumus alokasi anggaran rumah tangga yang pas adalah 50:25:25. Artinya 50% untuk uang belaja. 25% untuk nafkah istri: 25% buat pegangan suami 
Misalnya gaji si suami perbulan adalah 10 juta. Maka jatah belanja bulanan adalah sebesar 5 juta. Jatah nafkah istri adalah 2,5 juta. Uang pegangan suami adalah 2,5 juta perbulan

Tapi itu kembali pada bapak ibu bagaimana baiknya saja. Mau menjadikan uang belanja dan nafkah istri jadi satu paket (seperti juga saya) juga tidak masalah. Toh suami kerja itu buat siapa sih? Pasti demi istri dan anak-anak bukan?

Bagaimana jika suami penghasilannya tidak tetap? Jadi pedagang, makelar, pekerja harian, tukang ojek online dan profesi sejenisnya? Tidak mungkin kan menerapkan “rumus belanja bulanan” seperti di atas? Apalagi jika sang suami seorang pengangguan

Kebetulan saya termasuk golongan dengan penghasian tidak tetap, karena profesi adalah wiraswasta. Ada kalanya sebulan bisa mendapat penghasilan lumayan banyak. Kalau pas sepi order ya dapatnya sedikit. Tapi saya tetap menjatah belanja istri dengan nominal pasti tiap bulan. Karena saya sengaja memisahkan duit buat usaha dengan duit pribadi. Istilahnya saya menggaji diri sendiri buat mencukupi kebutuhan keluarga. Mau bisnis untung beliung atau bangkrut mengkerut, nafkah buat anak istri harus tetap mengalir, bagaimanapun caranya (yang halal pastinya)

Bagi saudara kita yang punya penghasilan tidak tetap dan tidak bisa kasih uang belanja dengan jumlah pasti tiap bulan, tidak usah kecil hati. Yang penting sebagai suami sudah berusaha sekuat tenaga buat memberikan nafkah pada keluarga. Bagi para istri, yang sabar ya. Mau dikasih jatah sedikit atau banyak, seorang istri harus pintar-pintar mengatur keuangan. Kalau ada lebih ya ditabung. Kalau kurang ya... gimana ya? Hehehe

Mau kasih saran, jika uang belanjanya kurang silahkan istri usaha / kerja bantu suami... Kok kesannya gimana gitu. Karena adat yang berlaku di Indonesia itu pihak prialah yang punya kewajiban mencari nafkah buat anak istri. Maka jika ada seorang istri yang rela bekerja keras membantu ekonomi keluarga, mereka adalah kaum wanita hebat!! Dan jika ada suami yang tega menyakiti istri hebat seperti ini, bisa dipastikan dia termasuk pria yang sungguh ter-la-lu!!

Oke kangmas... semangat terus dalam bekerja / berwirausaha biar bisa kasih nafkah unlimited pada istri. Jangan gara-gara asik main mobile legend jadi lupa tanggung jawab karena Alucard tidak punya skill pemburu fulus

Buat mbakyu... kasih semangat pada suaminya biar giat cari duit. Jika hasilnya masih sedikit, jangan dicemberutin. Tetaplah tersenyum dan berikan cinta unlimited. Yakinlah, kelak dia akan jadi orang sukses dan kaya!
“Banyak uang memang tidak menjamin keluarga hidup bahagia. Tapi tanpa uang, keutuhan rumah tangga terancam bahaya” quote by self

Demikian celotehan tentang belanja istri. Maaf jika belum bisa memberikan solusi konkrit. Berapapun nafkah yang diberikan, semoga keluarga bapak ibu tentram damai bahagia sampai kelak ajal menjemput. Amin... 💕

Click to comment